Jumat, 02 Maret 2012

memanusiakan manusia

MEMANUSIAKAN MANUSIA

MEMANUSIAKAN MANUSIA

Pendahuluan

Manusia adalah makhluq ciptaan Allah SWT yang terdiri dari unsur zahir (jasad) dan unsur gaib (ruh/jiwa). Paduan unsur bumi (jasad yang berasal dari tanah) dan langit (ruh) ini menghasilkan satu makhluq yang khas (32:7-10). Manusia memiliki karakteristik yang rumit dan kompleks, dimana didalamnya tergabung unsur kebaikan dan keburukan. Ia dapat meninggi melebihi para Malaikat, namun iapun dapat terjungkal ke jurang kehinaan melebihi binatang.
Karena karakteristiknya yang khas, manusia sulit dimengerti dan dikenali secara utuh, kecuali oleh sang penciptanya sendiri. Banyak ilmuwan yang gagal memahami perilaku dan sifat khas manusia tersebut. Alexis Carrel, penulis buku The Misterious Man mengakui betapa banyak hal yang tidak diketahui tentang manusia, baik yang zahir maupun yang gaib. Ia memaparkan betapa manusia hingga kini masih sulit menghubungkan teori kedokteran dengan fenomena mimpi. Para ahli hingga kinipun belum mampu mengurai zat-zat apa yang menyusun gen hingga dapat membawa sedemikian banyak sifat dan karakter orang tua pada anaknya.
Sebagian manusia ada yang meraba-raba sifat khas ini, lalu lahirlah berbagai teori tentang manusia. Darwin dengan teori evolusinya (1809-1882) mengatakan bahwa manusia adalah bentuk akhir daripada evolusi hayat, sedang binatang bersel satu sebagai awal evolusi. Dengan demikian Darwin telah menempatkan manusia dalam alam binatang, yang berarti baik akal budi, kesadaran moral maupun agamanya merupakan hasil perkembangan evolusioner.
Freud dengan teori Psikoanalis-nya menganggap kehadiran manusia di bumi sebatas pada upaya memuaskan nafsu seksualitasnya. Ia berpendapat semua masalah yang menghiasi dan muncul ke permukaan disebabkan terkekangnya nafsu seksual oleh norma dan aturan yang dibuat manusia dan agama.
Marx (1844) mengangkat bendera sosialisme sebagai wujud dari keyakinan bahwa manusia hanya akan bahagia dengan menguasai alat produksi. Sementara kelompok yang lain mengangkat bendera spiritualisme yang menolak dunia. Mereka berkeyakinan, sumber segala keruwetan hidup berpangkal pada kecintaan dunia. Sehingga mereka menafikan pernikahan, keluarga, mencari nafkah dan bentuk-bentuk aktifitas yang berhubungan dengan duniawi.
Hasil dari rabaan yang tidak tuntas itu malah membuat manusia makin masuk ke dalam jurang gelap yang mengungkungnya dari cahaya hidayah. Masing-masing kelompok yang mengikuti teori rabaan tersebut kian jauh dari fitrahnya yang hanif. Sehingga lahirlah generasi sesat yang mewarnai kehidupan dengan segala kerusakannya.
Tentu saja hanya Islam yang berhasil menyingkap hakekat kemanusiaan manusia secara utuh dan benar. Untuk itu pembahasan di bawah ini akan mencoba mengungkapkan tentang hakekat keberadaan manusia tersebut, termasuk misi yang diembannya di dunia.


HAKEKAT MANUSIA

Ta'rif / definisi manusia adalah makhluq yang terdiri dari ruh dan jasad yang dimuliakan dengan tugas ibadah dan berkedudukan sebagai kholifah serta pemimpin di bumi.
1. Manusia Sebagai Makhluq Allah SWT
Sebagai makhluq , manusia secara fithrah memiliki beberapa kelemahan yang memang manusiawi. Seperti, manusia adalah makhluq yang lemah (dhoif), baik fisik maupun batin (4:28). Disamping itu manusia memang diciptakan dalam keadaan bersusah payah (90:4);juga manusia bersifat zalim dan bodoh/jahil (33:72), sehingga dalam hadist Rasul, digambarkan sebagai tempat salah dan lupa. Apalagi jika dibandingkan dengan ke-Maha Tahu-an dan Ilmu Allah , maka ilmu manusia hanyalah setetes air dibanding seluruh samudra.
Sebagai Pencipta dan Pemilik seluruh alam semesta (termasuk manusia) tentu saja Allah Maha Kaya, sedang manusia amatlah faqir dan senantiasa tergantung pada rahmat dan pertolongan Allah. Sayangnya manusia juga punya sifat suka membantah (18:54), disamping berkeluh kesah (jazu'a) dan kikir (Manu'a). Ketika menerima nikmat jarang bersyukur, sedang ketika datang bala (cobaan) amat mudah berkeluh kesah (70:19-21).
Di ayat Al Qur'an yang lain Allah mengomentari sifat manusia yang sering berbuat tergesa-gesa ('ajula) hingga banyak memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan yang matang (17:11 dan 21:37). Juga manusia sering ingkar kepada Rabbnya (100:6).
Kelemahan-kelemahan di atas tidak seharusnya menjadikan manusia berputus asa dan menyerah pada keinginan hawa nafsunya. Dalam hal ini, segalanya tergantung kepada manusia itu sendiri. Jika ia memanfaatkan potensi dirinya untuk kebaikan, maka dia akan menjadi manusia yang baik dan selamat. Sebaliknya bila sifat negatif ini yang terus diikuti , niscaya ia jatuh ke dalam jurang kehinaan dan kenistaan.

2. Keistimewaan ManusiaDiantara makhluq ciptaan Allah yang sekian banyak jumlahnya , manusia adalah makhluq yang terbebani dengan tugas dan beban yang amat berat , dimana tak satupun makhluq lain yang sanggup mendapatkan amanah seberat itu. Agar ia mampu mengemban amanah tersebut , manusia dikaruniai beberapa kelebihan dibanding makhluq Allah yang lain, dalam berbagai segi.
Dari segi penciptaannya, manusia adalah sebaik-baik penciptaan/ahsanuttaqwim (95:4). Misalnya ; organ tubuh manusia dibandingkan makhluq yang lain semua serba lebih sempurna kreasinya. Apalagi dalam proses penciptaannya telah ditiupkan ruh (32 : 7-10) yang menandai dominasi unsur samawi / langit pada diri manusia yang mengangkatnya ke derajat yang yang tinggi. Juga manusia adalah satu-satunya makhluq yang bisa menyerap ilmu dan mengembangkannya. Allah yang Maha Berilmu telah menetapkan dan mengajarkan ilmu-ilmu khusus kepada manusia (2:31 / 96:50).
Keistimewaan yang lain adalah kemampuan manusia berbicara dengan berbagai macam bahasa dan sarana , termasuk menirukan bunyi-bunyian alam dan binatang (55:1-4). Allah juga telah mengaruniakan lidah dan dua bibir agar manusia bisa berbicara (90:8-9).
Diantara makhluq-Nya yang lain , Allahpun memberikan kedudukan yang tinggi kepada manusia , yaitu sebagai pemimpin, sehingga manusia bisa memanfaatkan alam semesta ini untuk keperluan hidupnya (2:29 / 31:20). Segala yang ada di alam ini telah disediakan untuk kepentingan manusia, karena memang manusialah yang bertugas memakmurkan bumi (11:61). Untuk itu manusia dibekali kemampuan akal, dengannya dapat berfikir, melakukan pengamatan dan menyimpulkan. Manusia juga berkembang daya intuisi dan imajinasinya , bisa mengkhayalkan sesuatu yang belum pernah terjadi. Akalnya berkembang menjadi sarana berkembangnya ilmu dan teknologi, sedang kemampuan imajinasinya mengembangkan kreatifitas manusia dalam berkarya.
Allah yang memberikan kebebasan berkehendak / iradah kepada manusia (76:3). Ia bisa memillih jalan yang baik, bisa pula memilih jalan yang sesat. Sekedar ilmu, belum tentu bisa mengarahkan kepada kabaikan, yang bisa mengarahkan kepada kabaikan adalah kemauan dan kehendak yang kuat, yang itu tidak lain adalah adanya petunjuk dari Allah yaitu Al Qur'an dan Sunnah Rasul (Hadist) sebagai rujukan, pedoman agar manusia tidak salah dalam memilih dan melangkah karena sudah ada patokan yang jelas dalam tuntunan Allah tersebut. Bisa jadi orang sudah memiliki ilmu tentang balasan surga dan neraka, namun ia tidak bisa menjadi baik hanya karena ilmunya, tanpa dibarengi dengan kehendak yang kuat untuk menjadikan dirinya baik. Manusiapun memiliki tendensi moral tersendiri, yang membuatnya memiliki peluang untuk "dibentuk" menjadi baik ataupun buruk. Bahkan ia juga bisa berperan ganda sebagaimana orang munafiq-satu sisi ia kelihatan baik, namun ternyata ia adalah orang yang berbuat jahat.
Berbagai macam sifat dan sikap bisa dimiliki manusia sekaligus. Tampak betul dari segi ini manusia memang berbeda dengan binatang. Binatang sulit atau malah tidak bisa dibentuk dengan sifat dan karakter yang bermacam-macam padanya. Sebab ia tidak memiliki kelengkapan tendensi/kecenderungan yang memungkinkan untuk bisa bersifat "menjadi", seperti menjadi baik atau menjadi buruk.
Demikianlah antara lain keistimewaan manusia dibandingkan makhluq ciptaan Allah yang lain. Namun Al Qur'an juga menginformasikan dengan gaya metafora bahwa dengan segala kelebihannya itu masih ada manusia yang berperilaku seperti Binatang (7:179), seperti Kera dan Babi (5:60), dan seperti Anjing (7:176). Dalam ayat lain Allah menggambarkan sekelompok manusia yang berperilaku seperti keledai (62:5) atau seperti batu yang tidak dapat menerima aliran Hidayah Allah (2:74). Dengan demikian , keistimewaan manusia penuh dengan konsekwensi yang menyertai misi keberadaannya di muka bumi ini, yang jika ia keliru mengambil jalan hidup , bisa membawanya ke derajad yang lebih rendah ketimbang binatang sekalipun.

3. Misi Yang Diemban ManusiaTugas yang diemban manusia di muka bumi ini pada dasarnya ada dua, yakni tugas ibadah dan sebagai khalifah. Keduanya merupakan tugas yang besar, berbarengan dengan misi penciptaan manusia itu sendiri. Sungguh, kehadiran manusia di muka bumi ini tidak untuk main-main dan sendau gurau, tapi dengan satu kepastian arah serta tujuan (23:115 / 75:36). Tugas manusia memang tidaklah ringan , terbukti tak satupun makhluq berani mananggungnya (33:72).


a. Tugas Ibadah
Manusia diciptakan agar beribadah kepada Allah semata-mata (51:56). Ibadah adalah segala amal (perbuatan) manusia yang semata-mata diniatkan untuk Allah dan sesuai dengan aturan yang telah digariskan oleh-Nya. Sedangkan hakekat ibadah adalah ketaatan dan ketundukan yang mutlak kepada Allah SWT. Oleh karena itu, segala sesuatu yang diperbuat seseorang karena ketaatan dan ketundukannya kepada Allah adalah ibadah.
Adapun ibadah dalam pengertian khusus adalah pelaksanaan perintah Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana telah dicontohkan sendiri oleh Rasulullah SAW, seperti Shalat, Zakat, Haji, Puasa Ramadhan dsb. Ibadah dalam pengertian khusus ini tidak boleh ditambah-tambah atau dikurangi dari ketentuan dan contoh yang telah diberikan oleh Rasulullah SAW.
Manusia terikat mutlaq dengan Allah , sebab pada hakekatnya manusia hanyalah seorang hamba / budak, yang tidak lagi memiliki kemerdekaan. Segala sesuatu yang ia miliki pada dasarnya pemberian dan milik Allah, termasuk jasad dan ruhnya sekaligus. Dengan demikian wajarlah jika Allah menuntut kepada manusia untuk melakukan penyembahan atau peribadatan total kepada-Nya (2:21).
b. Tugas KhalifahAllah SWT berfirman : "Ingatlah ketika Rabb berfirman kepada para malaikat, Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi " (2:30).
Makna khalifah disini adalah menggantikan dan untuk memberikan penghormatan kepada yang mengggantikan , jadi bukan dalam pengertian menggantikan karena tidak adanya sesuatu. Dengan demikian , khalifah yang dimaksudkan adalah pengangkatan dari Allah untuk manusia di bumi ini sebagai suatu penghormatan kepada-Nya (35:39).
D
alam ayat lain Allah memberikan kepercayaan kepada manusia sebagai penguasa bumi / khulafa'ul ardhi (27:62). Yang dimaksud dengan penguasa bumi tersebut adalah khalifah yang dijanjikan dan dinantikan untuk ummat yang menerima seruan da'wah Nabi SAW (24:55).

Tugas yang diemban manusia berkaitan dengan kekhalifahan ini amat berat. Syarat utamanya adalah beriman dan beramal saleh. Mereka memimpin peradaban di bumi ini dengan jalan menegakkan syariat secara adil, kemudian memakmurkan bumi Allah berdasarkan syariat tersebut. Tentu saja manusia yang diangkat sebagai pemimpin (khalifah) tersebut bukan berfungsi sebagai penguasa mutlaq, dan harus berbuat berdasarkan perintah yang mengangkatnya, bukan atas kemauan sendiri.
Tugas kekhalifahan ini berhubungan erat dengan tugas yang pertama, yakni ibadah (penyembahan). Kekhalifahan dimaksudkan untuk tegaknya "ubudiyah" secara total.Oleh karenanya , tugas mengemban syariat Allah di muka bumi serta pemakmuran bumi senantiasa terkait dengan pengabdian Allah secara mutlaq. Dan kedua tugas tersebut kelak akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah atas pelaksanaan tugas-tugas tersebut.

4. Kebebasan dan Pertanggung-jawaban Manusia
Walaupun sudah dibebani tugas ibadah dan khalifah, tetapi manusia diberi kebebasan oleh Allah untuk melaksanakan ataupun tidak melaksanakan tugas tersebut. Allah sudah memberikan dua jalan, yakni jalan kebenaran dan jalan kebatilan (90:10) , terserah manusia mau memilih yang mana. Juga Allah sudah memberi petunjuk jalan yang benar, jalan yang lurus, terserah manusia mau mengikuti atau tidak (76:3) . Namun semua pilihan itu memiliki konsekwensi masing-masing. Apakah manusia memilih kebaikan atau ke arah yang buruk, semua akan dimintai pertanggungjawaban disisi Allah (17:36).

Dalam diri manusia senantiasa terjadi pergumulan antara tarikan ke arah kebaikan dan tarikan ke arah keburukan (35:32). Ada kelompok yang mampu memunculkan Al Mukhlikat (sifat dan karakter yang terpuji) dan memendam Al Munjiyat (sifat dan karakter tercela). Mereka lebih banyak kebaikannya disebabkan ia lebih mengikuti ajakan kebenaran (sabiqun bil khairat) . Mereka inilah yang menempatkan jiwa di atas hawa nafsu, lebih menuruti bisikan hati yang hanif. Inilah jiwa yang Allah juluki nafsul Muthma'innah (jiwa yang tenang) yang selalu berdzikir pada Rabbnya (89:27 / 13:28) .

Ada pula kelompok manusia yang selalu berada di antara dua kutub kebaikan dan keburukan, kadang menang tarikan kebaikan, kadang menang tarikan keburukan (muqtashidun) . Inilah jiwa yang selalu menyesali dirinya (nafsul lawwamah).

Ada manusia yang terkalahkan oleh hawa nafsunya sehingga banyak melakukan keburukan (dzalimun linafsihi). Mereka mambutatulikan panggilan fithrahnya dan selalu menuruti nafsu yang menyuruhnya berbuat kejahatan (nafsul amarah), sebagaimana firman Allah dalam Al Qur'an (12:53).

Dengan dua sisi yang berbeda secara diametral ini, manusia dituntut untuk benar dalam menentukan pilihan kehidupan di dunia ini, agar nanti di akhirat bisa mempertanggungjawabkan di sisi Allah. Manusia yang menang, yang berhasil mengemban misi yang diamanahkan kepadanya, dengan taufiq Allah, kelak akan mendapat balasan yang lebih baik di sisi Allah, yaitu kenikmatan Surga/Jannah (18:107-108) . Sedangkan manusia yang kalah, yang tersesar dan tak mau mengikuti jalan kebenaran yang ditentukan-Nya, harus menanggung konsekwensi yang berat yaitu mendapat siksa di neraka jahannam (18:104-106).


KESIMPULAN DAN PENUTUP

Manusia adalah makhluq ciptaan Allah yang terdiri dari ruh dan jasad, dan dimuliakan dengan tugas ibadah dan khalifah di muka bumi. Akibat amanah yang diembannya itu, logis jika manusia dilengkapi dengan sifat-sifat keistimewaan dan indera khusus yang tidak dimiliki oleh makhluq lain yang memungkinkan bisa melakukan amanah tersebut dengan baik dan sempurna. Dan untuk itu pula dia harus mempertanggungjawabkan di hadapan Allah atas segala apa yang telah dilakukan selama di dunia. Satu-persatu perbuatannya akan dihisab, bagaimana pelaksanaan misi ibadah dan kekhalifahan itu ditegakkan.

Bila ia memilih jalan kebaikan dan menegakkan nilai-nilai Allah di muka bumi maka balasannya adalah surga Allah dan bila ia lebih mementingkan hawa nafsu daripada hidayah maka dia harus mempertanggungjawabkannya yaitu mendapat siksa dan murka Allah di hari Akhirat kelak yakni di Neraka.

Dengan mengerti kondisi semacam ini kita manusia yang memiliki akal fikiran dan telah diturunkan kepada manusia yaitu Al Qur'an dan Hadist maka tidak ada pilihan lain bagi kita manusia kecuali menegakkan nilai-nilai kemanusiaan manusia sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Mudah-mudahan kita bisa termasuk dari hamba-hambanya yang bisa selamat di dunia dan Akhirat. Wallahu a'lam !

Universalitas Islam antara teori dan praktek

UNIVERSALITAS ISLAM ANTARA TEORI DAN PRAKTEK

Mukadimah
Puji syukur hanya milik Allah SWT, shalawat
dan salam senantiasa dilimpahkan kepada pemimpin para Nabi, Rasul, Syuhada dan
Orang-orang shaleh, Muhammad SAW, serta para Keluarga, Shahabat dan umat Islam
yang tetap komitmen merealisasikan Islam dalam seluruh sendi kehidupannya.


Salah satu karakteristik Islam yang sangat penting adalah universal (As-Syumul),
karakteristik ini telah menjadi ciri yang paling istimewa dalam ajaran Islam, sehingga
membedakannya dari seluruh agama dan
ideologi lain yang pernah diketahui
manusia di dunia ini.


Universalitas Islam (Syumuliyatul Islam), adalah sebuah prinsip bahwa agama Islam adalah risalah abadi yang berlaku sepanjang jaman
dalam kehidupan manusia di muka bumi ini, risalah yang tetap relevan dan
menjadi rahmat kepada seluruh pelosok bumi bahkan seluruh alam serta risalah
yang harus menjadi pedoman (way of live) bagi seluruh dimensi kehidupan
umat manusia di dunia dan akhirat.


Universalitas Islam menuntut umat Islam
untuk merealisasikan seluruh ajaran Islam dalam semua aspek kehidupannya,
sehingga keIslaman seseorang bukan keIslaman yang parsial dan temporal, akan
tetapi keIslaman yang sesungguhnya adalah beriman dan mengaktualisasikan
seluruh ajaran Islam secara utuh dalam kehidupannya.


Inilah yang dimaksud oleh Allah
SWT dalam Al-Qur'an: "Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al-Kitab
dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tidak ada balasan bagi orang yang
berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan
pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat".

(Q.S Al-Baqarah: 85)


Karenanya Allah Swt menegaskan kepada
manusia, agar memeluk agama-Nya secara utuh dan totalitas, firman Allah : "Hai
orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam secara keseluruhannya dan
jangan kamu turuti langkah-langkah syetan".
(Q.S: Al-Baqarah:
208)


Dalam makalah yang bertema: "Universalitas
Islam antara teori dan praktek
" ini, Penulis akan menjabarkannya
dalam dua variable, variable pertama adalah: Nilai universalitas
Islam,
yang meliputi: Devinisi Universalitas Islam, Universalitas Islam
dalam dimensi waktu, Universalitas Islam dalam dimensi tempat, universalitas
Islam dalam seluruh aspek kehidupan serta
Universalitas Islam dalam Sistem (manhaj). Variable kedua adalah:
Realisasi nilai universalitas Islam dalam kehidupan, yang meliputi
beberapa usaha sistematis berikut: Optomalisasi Pendidikan Islam, Soliditas
umat Islam, Mewujudkan masyarakat Islam dan Dukungan politik


Adapun metode penulisan makalah ini, memakai
metode Deskriptif (Tahlily) dengan menguraikan masalah sesuai data
kepustakaan.


Semoga tulisan sederhana dalam makalah ini,
bermanfaat bagi umat Islam Amiin..

I. NILAI UNIVERSALITAS ISLAM
Nilai universalitas Islam adalah salah satu
nilai yang membuktikan bahwa Islam adalah risalah abadi dan sempurna, serta relevan
untuk semua jaman, tempat dan semua umat manusia di bumi. Sebab Islam adalah produk Allah Swt, pencipta sekaligus
pengatur sistem alam semesta dan kehidupan makhluk-Nya, Al-Qur'an menjadi bukti penguat terhadap nilai
ini, di mana isi dan kandungannya selalu relevan dan dinamis dalam setiap ruang
dan waktu, rahasia ilmu pengetahuan dan filsafat kehidupan manusia yang ada di
dalamnya, tak pernah habis dan berkesudahan, ia selalu dapat menjawab
problematika manusia, baik dalam dimensi dunia maupun akhirat, bukti histories
perjalanan Al-Qur'an akan semakin meyakinkan kita akan realitas ini, yang penuh
dengan mukjizat serta takluknya setiap individu maupun kelompok yang
menantangnya. Firman Allah : "Katakanlah
"Sesungguhnya jika jin dan manusia berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur'an ini niscaya mereka
tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun mereka saling bekerja sama antara yang satu dengan
yang lain."(
Q.S: Al-Isra : 88)


Bahkan lebih dari itu, isi kandungan
Al-Qur'an selalu mengisyaratkan temuan-temuan ilmiah yang baru dalam dunia ilmu
pengetahuan, seperti teori hampa udara, proses penciptaan manusia dan bumi,
teori ekonomi politik dan lain
sebagainya yang menunjukkan bahwa Islam adalah dunia dan akhirat, agama dan
negara serta ideologi dan peradaban.




A. Devinisi Universalitas Islam




1. Universalitas menurut bahasa


Universalitas berasal dari bahasa inggris universal,
yang berarti: Semesta dunia, Universally,
yaitu: Disukai di seluruh dunia atau Universe, berarti: Seluruh bidang.[1] Dalam kamus Al-Munjid As-syamlah
adalah: Sesuatu yang luas.[2]




2. Universalitas menurut istilah:


Adapun Universalitas Islam dalam pengertian
isatilah sebagaiman yang didefinisikan oleh Yasuf Al-Qardhawi adalah: "Bahwa
risalah Islam meliputi seluruh dimensi waktu, tempat dan kemanusiaan, yang
secara realitas mencakup tiga karakteristik yaitu: Keabadian, internasionalitas
dan aktualisasi [3]


Menurut Abdul Karim Zaidan Universalitas Islam adalah: "System yang
universal meliputi seluruh perkara kehidupan dan tingkahlaku manusia" [4]


Adapun menurut pejuang unversalitas Islam
Imam Hasan Al-Banna adalah: "Islam adalah sistem yang universal yang
mencakup seluruh aspek kehidupan, maka Islam adalah Negara dan tanah air,
pemerintahan dan rakyat, budi pekerti dan kekuatan, rahmat dan keadilan, hukum
dan intelektualitas, ilmu pengetahuan dan undang-undang, asset dan materi,
usaha dan kekayaan, jihad dan da'wah, pemikiran dan militer. Sebagaimana Islam adalah
akidak yang lurus dan ibadah yang benar" [5]


Dengan pengertian di atas, maka Islam adalah risalah yang
universal sekaligus konfrehensif dan lengkap, dia adalah agama dan negara hukum
dan ideologi, prinsip dan aplikasi, teori dan praktek serta selalu relevan
untuk semua tempat dan jaman.




B. Universalitas Islam dalam dimensi
waktu


Universalitas Islam dalam dimensi waktu,
adalah sebuah prinsip Islam bahwa syariat Islam akan berlangsung abadi sesuai
perjalanan waktu, realitas ini dapat kita lihat dalam pembahasan berikut:




1. Islam adalah risalah para
Nabi terdahulu


Umat Islam sepakat bahwa risalah Islam
adalah risalah abadi yang diberikan Allah Swt kepada seluruh umat manusia, agar
menjadi petunjuk dan pedoman hidup mereka, risalah Islam tidak pernah berubah
prinsipnya sejak pertama kali dibawa oleh para Nabi, seperti Nabi Ibrahim as, Hud as,
Luth as, Syuaib as, Musa as dan Nabi-nabi yang lain hingga Rasul terakhir bagi umat manusia, Muhammad Saw. Walaupun Nabi-Nabi yang lain
membawa risalah dengan bentuk syari'at yang berbeda-beda, akan tetapi pada
dasarnya adalah sama yaitu, membawa agama yang mempercayai bahwa Tuhan adalah
satu (monoteisme) dan Tuhan yang harus disembah umat manusia adalah Allah Swt,
karenanya seluruh dakwah para Nabi sebelum Nabi Muhammad Saw, adalah da'wah
mengajak kepada beriman dan beribadah kepada Allah Swt, sebagaimana dakwah Nabi
Ibrahim as, yang diceritakan Allah dalam Al-Qur'an: "Ibrahim berkata : "Maka
apakah kamu telah memperhatikan apa yang
kamu sembah?. Kamu dan nenek moyang kamu
terdahulu?. Karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku,
kecuali Tuhan semesta alam. Yaitu Tuhan yng telah menciptakan aku, maka Dialah
yang memberikan petunjuk kepadaku"
(Q.S: Asy-Syu'araa:75-78)


Demikian pula dakwah Nabi Nuh as, yang diabadikan Allah Swt dalam
Al-Qur'an: "Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka: Mengapa
kalian tidak bertakwa?. Sesungguhnya saya adalah seorang Rasul yang diutus
kepadamu. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku".
(Q.S:
Asy-Syu'ara:106-108)


Serta dakwah Nabi Hud as: Ketika saudara
mereka Hud berkata kepada mereka : Mengapa kalian tidak bertakwa? .
Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan yang diutus kepdamu, maka
bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku"
.(Q.S:Asy-Syuaraa:124-126)


Demikianlah para Rasul terdahulu mengajak
umat manusia menyembah Allah Swt dan memeluk agama-Nya. Bahkan lebih jelas lagi
Allah Swt menjelaskan kepada kita, bahwa agama Islam yang kita anut ini adalah
satu napas dan sejiwa dengan syari'at-syari'at yang dibawa oleh para Rasul terdahulu, firman Allah: "Dia telah mensyariatkan bagi kamu
tentang agama apa yang telah diwasiatka-Nya kepada Nuh as, dan apa yang telah
Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa
dan Isa, yaitu tegakkanlah agama, dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.
Amat berat bagi orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya."
(Q.S:
Asy-Syura: 13)




2. Risalah Islam adalah risalah
semua jaman


Uraian diatas, seligus menjelaskan bahwa
risalah Islam secara substansi adalah
risalah setiap jaman, dimulai dari jaman-jaman Nabi terdahulu, kemuadian jaman
Rasulullah Muhammad Saw, hingga akhir jaman nanti, risalah ini telah berlaku untuk
semua periode jaman yang dilalui manusia di dunia ini walaupun dalam bentuk
syari'at yang berbeda-beda, dengan demikian dapat dikatakan bahwa Islam adalah
risalah untuk Abad pertama, pertengahan, dan abad modern (sebagaimana
klasifikasi sejarah yang dianut para Sejarawan), karena Islam tidak mengenal
dikotomi masa atau jaman, Islam bukanlah agama temporal berlaku untuk masa
tertentu, sebagaimana firman Allah: "Dan Kami tidak mengutus kamu,
melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan
sebagai pemberi peringatan , tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui"
.
(Q.S: Saba' :28)


Makna yang sama dalam ayat ini ditekankan kembali oleh Allah Swt pada ayat yang lain : Katakanlah:
"Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua"

(Q.S: Al-A'raf:158)


DR. Yusuf Al-Qardhawi
mengatakan bahwa Al-Qur'an telah menjelaskan bahwa risalah Islam adalah; rislah
semua jaman, sebagaimana ungkapan para Nabi yang diutus Allah Swt dalam setiap jaman
yang berbeda, mereka selalu mengatakan bahwa mereka adalah seorang muslim,
seperti perkataan Nuh as: "Dan saya diperintahkan agar menjadi seorang
muslim".
(Q.S: Yunus:72)


Pernyataan Ibarahim as: "Wahai Tuhan
kami jadikanlah kami sebagai dua orang muslim kepada-Mu serta keturunan
kami"
(Q.S:Al-Baqarah: 128)


Pernyataan Yusuf as : "Wafatkanlah
saya sebagai seorang muslim dan pertemukan saya dengan orang-orang shaleh"
.(Q.S:Yusuf:101)


Sampai pernyataan pengikut
setia Isa as: "Kami beriman kepada Allah dan saksikanlah bahwa kami
adalah orang-orang muslim"
. (Q.S:Ali
Imran:52)


Sesungguhnya risalah ini pada
prinsipnya adalah risalah setiap Nabi, yang datang dari Allah Swt, sejak Nabi Nuh as sampai Muhammad Saw. Sungguh dia adalah risalah
setiap jaman. [6]




3. Risalah Islam adalah risalah
hingga akhir jaman


Islam
adalah agama abadi dan akan berakhir ketika berakhirnya alam semesta, dengan
demikian risalah dan syari'at Islam tetap akan berlaku dan relevan sampai hari
kiamat. Tidak ada risalah lain yang dapat menggantikan risalah ini walaupun
banyak orang ,kelompok dan bangsa yang lain mengklaim dirinya memiliki risalah
atau ideologi yang lebih relevan untuk zaman modern ini. Maka pernyataan itu
tidak dapat diterima oleh umat Islam, sebab pemilik agama ini Allah Swt, telah menjamin
kesempurnaan dan kelengkapan agama Islam dengan firman-Nya : "Hari ini
telah Ku-sempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah Ku-sempurnakan bagi
kalian nikmat-Ku serta Aku telah ridhai agama Islam menjadi agama kalian
". (Q.S: Al-Maidah: 3 )


Bukti lain yang menunjukkan bahwa rislah
Islam adalah risalah terakhir hingga akhir jaman, adalah ketetapan Allah Swt
yang mengutus Nabi Muhammad Saw sebagai Nabi terakhir, penutup para Nabi dan
Rasul serta pelengkap risalah para Nabi dan Rasul sebelumnya, sehingga tidak
akan ada lagi Nabi baru yang akan membawa risalah baru bagi umat manusia
setelah Muhammad Saw.


Allah berfirman : "Muhammad
itu sekali-kali bukanlah bapak dari
seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi.
Dan Allah maha mengetahui segala sesuatu"
(Q.S: Al-Ahzab: 40)


Dengan dua ayat di atas, jelas bahwa syari'at
Islam sempurna secara penuh melengkapi
apa yang belum ada pada syari'at sebelumnya, maka hal ini juga menegaskan bahwa
syari'at ini tidak membutuhkan lagi munculnya syari'at yang lain dan Rasul yang
lain [7]




C. Universalitas Islam dalam dimensi
tempat


Salah satu universalitas Islam yang paling
menonjol adalah, bahwa risalah Islam
menembus semua batas negara, wilayah, geografis dan suku bangsa. Rislah Islam
tidak hanya berlaku di negeri Arab dan Asia
saja, akan tetapi berlaku pula pada seluruh penjuru dunia yang ada peredaran
siang dan malam, untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari penjelasan berikut:








1. Risalah Islam adalah untuk
semua tempat


Walaupun Islam muncul pada mulanya dari
negeri Arab, hal ini bukan berarti Islam hanya berlaku di negara Arab, akan
tetapi salah satu ciri universalitas Islam adalah, berlaku untuk semua tempat
dan georafis. Bila ada tempat yang belum mendengar dan mengenal Islam, maka
kewajiban umat Islam untuk mengenalkannya dan mendakwahkannya kepada mereka,
sampai mereka mengenal dan mengetahui risalah Islam, DR. Muhammad Syamah mengatakan: Ketika
Allah memerintahkan kepada Nabi Musa untuk
mendakwahi Fir'aun dengan firman-Nya:


"Pergilah kamu kepada Fir'aun
sesungguhnya dia telah melampaui batas"
(Q.S:An-Nazi'at:17), hal ini
menunjukan bahwa risalah Musa as sebagaimana risalah Muhammad Saw, bukan hanya
untuk kaumnya saja akan tetapi untuk kaum yang lainnya juga, sebab Fir'aun
bukan termasuk kaum Musa as. [8]


Kenyataan lain yang mendukung hal ini adalah;
bahwa ketika Muhammad Saw telah berhasil
mendirikan sebuah negara Islam di Madinah, beliau mengirimkan surat kepada beberapa pemimpin negara dan bangsa
saat itu, yang isinya adalah memperkenalkan Islam dan mengajak mereka untuk
memeluknya.


Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri mengatkan
dalam buku Sirahnya: "Bahwa pada akhir tahun keenam ketika kembalinya Rasulullah
SAW dari perjanjian Hudhaibiyah, Beliau menulis surat kepada beberapa Raja dan pemimpin negara
lain saat itu untuk memeluk Islam". [9]


Dan di antara para pemimpin yang Beliau
kirimkan surat tersebut adalah: Najasyi
Raja Habasyah, Muqauqis Raja Mesir,
Kisra Raja Persia, Kaisar Heraklius Raja Romawi, Al-Munzir bin Sawi, Huzah bin
Ali tokoh Yamamah, Al-Harits bin Abi Syamar Al-Ghasni tokoh Damaskus dan surat
kepada Raja Oman. Seandainya risalah
Islam hanya terbatas pada negeri Arab saja, maka Rasulullah tidak akan
mengirimkan surat
kepada para pemimpin tersebut seperti Najasyi yang berada di Etiopia, Kisra di
Persia dan Kaisar Heraklius di Romawi. Inilah yang Allah maksudkan dalam
Al-Qur'an, bahwa Muhammad Saw, bukanlah Nabi untuk bangsa Arab semata, akan
tetapi untuk semua manusia di mana saja berada. Firman Allah: "Kami
tidak mengutusmu hai Muhammad kecuali menjadi rahmat untuk seluruh alam".

(Q.S: Al-Anbiya: 107).


Dan juga firman Allah : "Maha
suci Allah yang telah menurunkan Al-Qur'an kepada hamba-Nya agar supaya menjadi
pemberi peringatan bagi seluruh alam".
(Q.S: Al-Furqan:1)








2. Risalah Islam untuk semua bangsa
dan golongan


Selain bahwa risalah Islam berlaku untuk
semua tempat, Islam juga berlaku untuk semua bangsa dan golongan, karenanya
Islam tidak dikhususkan untuk bangsa Arab saja atau bangsa Asia dan yang lainya,
akan tetapi untuk semua bangsa dan golongan kulit hitam, putih , merah dan
coklat.


Firman Allah : "Dan
Kami tidak mengutusmu hai Muhammad kecuali untuk semua manusia sebagia pembawa
berita gembira dan pemberi peringatan".
(Q.S: Saba':
28)


DR. Yusuf Al-Qardhawi memberikan komentar
yang indah tentang hal ini dengan berkata: " Apabila Risalah ini tidak
terbatas pada zaman dan generasi tertetu, maka demikian pula ia tidak terbatas
dengan tempat, bangsa, umat dan kasta, sesungguhnya dia adalah rislah yang
universal yang ditujukan kepada seluruh umat, ras, bangsa dan semua kasta,
Islam bukanlah risalah untuk bangsa tertentu, yang mengklaim bahwa dirinyalah
bangsa pilihan Allah, dan bangsa yang lain semuanya harus tunduk kepadanya.
Islam bukan risalah untuk wilayah tertentu sehingga wilayah lain di bumi ini
harus tunduk dan mengikutinya serta menyerahkan kepadanya hasil dan pendapatan
daerah lain. Begitu pula Islam bukan untuk ras dan kasta tertentu yang menguasai
ras dan kasta yang lain untuk melayani kepentingannya, baik ras atau kasta ini
terdiri dari penguasa dan orang-orang kuat, atau terdiri dari para budak dan
orang-orang lemah, dari orang kaya atau orang-orang yang miskin dan sebagainya.
Akan tetapi risalah Islam adalah risalah untuk semua, tanpa memandang
perbedan-perbedaan tersebut. [10]




D. Universalitas Islam dalam
seluruh aspek kehidupan




1. Universalitas Islam dalam
akidah


Akidah
Islam yang diyakini umat Islam, adalah
akidah yang universal dari segi manapun kita melihatnya, ada beberapa faktor
yang menunjukan bahwa akidah Islam sangat universal:


  1. Akidah
    Islam menyentuh hal-hal besar dalam kehidupan manusia yaitu: Masalah
    ketuhanan, alam, manusia, kenabian dan hari kemudian.
  2. Akidah
    Islam adala akidah monoteisme yang menolah politeisme dan paganisme
    seperti dalam akidah agama lain yang mengakui jumlah Tuhan lebih dari
    satu.
  3. Akidah
    Islam (iman)dapat dikuatkan melalui akal (pemikiran) dan hati (emosional)
    sehinngga akidah Islam tidak dimonopoli oleh akal seperti filsafat, atau
    dimonopoli oleh hati seperti kirsten,Budha dan yang lainnya. Akan tetapi
    akidah Islam mensinergikan antara keduanya.
  4. Akidah
    Islam tidak mengenal dikotomi ajaran, dia adalah keimanan 100% terhadap seluruh ajaran Islam, sehingga
    muslim yang benar adalah mengakui akidah, sebagaimana ia mengakui ibadah,
    akhlak,interaksi social, politik dan sebagainya dalam Islam. Karenanya
    Islam tidak mengenal keIslaman pada ritual ibadah saja sementara ajaran
    yang lain seperti moralitas, sistem ekonomi, politik Islam dan yang
    lainnya diabaikan, sehingga Islam tidak mengenal keIslaman 50%, 80% atau
    99%. [11]






2. Universalitas Islam dalam
ibadah


Universalitas Islam dalam ibadah sama dengan universalitas Islam
dalam akidah diatas, karena ibadah dalam Islam tidak terbatas pada ibadah mahdhah
(sudah ditentukan Allah) akan tetapi seluruh pekerjaan baik setiap muslim yang
ikhlas karena Allah Swt, adalah ibadah.




3. Universalitas Islam dalam akhlak


Akhlak atau moralitas dalam Islam tidak
seperti gambaran sebagian orang yang mengisolasi moralitas Islam sebatas moralitas
"keagamaan" dan peribadatan seperti tidak minum khamar, tidak makan
daging babi,tidak menggangu wanita dan sebagainya, akan tetapi moralitas Islam
meliputi seluruh moralitas kehidupan manusia.


Maka menurut DR. Yusuf
Al-Qardhawi, bahwa universalitas akhlak Islam dapat dilihat dalam hal-hal
berikut:


a. Semua moralitas yang berkenaan
dengan individu, diantaranya kebutuhan hidup sehari-hari seperti makan, minum, pakaian dan sebagainya
firman Allah: "Makan dan minumlah kamu dan jangan berlebihan". (Q.S:
Al-A'raf: 31).


b. Semua moralitas yang berkenaan
dengan hidup keluarga, seperti bentuk interaksi suami dan isteri, firman Allah:
" Dan berinteraksilah kamu kepada isteri-isterimu dengan baik"
(Q.S: An-nisa: 19), dan hal-hal lain yang menyangkut kehidupan keluarga.


c. Semua moralitas yang berkenaan
dengan kehidupan sosial, seperti adab berkunjung, (Q.S: An-nur:27) transaksi
ekonomi, (Al-Baqarah: 282) politik dan
hukum, (Q.S: An-nisaa: 58). Dan sebagainya.


d. Semua moralitas yang berkenaan
dengan makhluk yang tidak berakal seperti hewan burung-burng dan lain
sebagainya


e. Moralitas yang berkenaan dengan
pencipta Allah Swt. Hal ini dapat dilihat dalam surat Al-Fatihah


f. Moralitas manusia yang
berkenaan dengan alam raya dan sebagainya. [12]




4. Universalitas Islam dalam
pendidikan dan sosial


Salah satu keistimewaan pendidkan Islam
adalah, mendidik manusia dengan seluruh unsur-unsur yang ada pada manusia itu
sendiri, pendidikan Islam tidak sebatas pada pendidikan intelektual (kognitif),
emosional (afektif) dan keterampilan (psikomotorik), sebagaimana pendidikan
barat yang banyak berlaku saat ini, akan tetapi pendidikan Islam sangat umum
dam universal meliputi semua unsur manusia yang harus didik yaitu: Unsur akal,
rohani dan jasmani. Ketiganya adalah satu bangunan yang saling berhubungan
antara yang satu dengan yang lainnya yang harus menjadi sasaran pendidikan
Islam sehingga menjadi manusia yang shaleh ". [13]


Adapun universalitas Islam dalam kehidupan social,
dapat dilihat bagaimana risalah Islam mengatur pola hubungan manusia
dengan manusia yang lain, dimulai dari
hubungan manusia dengan Tuhannya, orang tua, teman, tetangga, kerabat, isteri,
anak dan lain sebagainya, bahkan risalah Islam mengatur pola interaksi dengan
non muslim dan makhluk Allah yang lain, sebagaimana dalam pembahasan
universalitas Islam dalam akhlak di atas. Sabda Rasulullah SAW: "Sesungguhnya
Allah telah mewajibkan agar berinteraksi sebaik-baiknya terhadap segala
sesuatu"
(H.R: Muslim dan Abu Daud)




5. Universalitas Islam dalam
politik dan ekonomi


Salah
satu bukti universalitas ajaran Islam yaitu adanya konsep politik dan ekonomi
yang memiliki keistimewaan dari sistem politik dan ekonomi.


Politik Islam memiliki nilai keadilan yang
universal, berlaku untuk seluruh manusia dan golongan, sebagaimana ketika
Rasulullah Saw menjadi kepala negara Islam di Madinah sekaligus sebagai Nabi
dan Rasul, hal ini diakui sendiri oleh politikus barat, Montgomery Watt, dalam
bukunya : Muhamed Prophet and statesman [14]


Pernyataan ini menunjukan bahwa politik
Islam adalah politik yang mensinergikan antara negara dan agama, sehingga
politik Islam adalah sangat menjujung tinggi nilai-nilai agama dalam sebuah
pemerintahan yang memuliakan manusia dan memakmurkan dunia, Sebagaimana
pernyataan Imam Al-Ghazali: "Sesungguhnya politik dalam Islam adalah sistem yang paling mulia yang tidak ada
bandingannya di dunia ini, karena dia bertujuan merealisasikan kemaslahatan
seluruh manusia tanpa pengecualian, memanusiakan manusia, memakmurkan bumi dan
menegakkanya atas dasar kebenaran dan keadilan yang mutlak" [15]


Ada beberapa prinsip politik Islam, yang menjadi
keistimewaan politik Islam itu sendiri:


  1. Prinsip
    Syura
    , syura diakui lebih baik dari demokrasi, yang
    menjadi puncak dari sistem politik buatan manusia, syura adalah mekanisme
    terbaik dalam memilih pemimpin negara dan merancang undang-undang.
    Demikian pula syura adalah mekanisme yang diberikan Allah pada umat Islam
    untuk menjawab seluruh tantangan jaman.


b. Prinsip keadilan, keadilan
juga salah satu dari prinsip politik Islam, sebagaimana firman Allah: "Apabila
engkau memberi hukum pada manusia hendaklah dengan keadilan.
(Q.S: An-nisaa: 58). Bahkan Ibnu Taimiyah berkata: Sesungguhnya
Allah tidak menolong negara yang zalim, walaupun negara muslim, dan Allah akan
menolong negara yang adil, walaupun itu negara kafir.[16]


c. Prinsip bai'at, bai'at
adalah sistem politik Islam yang paling kokoh, dan juga sebagai konstitusi yang paling penting dalam
menegakkan undang-undang dan hakim dalam negara Islam, serta merupakan salah
satu cerminan dari demokrasi secara langsung dalam pemilihan kepresidenan atau khalifah
[17].
Demikian beberapa prinsip dari sistem politik Islam.


Adapun universalitas Islam dalam ekonomi,
dapat dilihat dari beberapa karakteristik ekonomi Islam di bawah ini:


  1. Bersumber
    dari Tuhan,
    Yaitu: sumber sistem ekonomi Islam berasal dari
    Allah SWT, sehingga bukan hasil pemikiran Plato, Aristoteles dan
    sebagainya.
  2. Pengawasan
    ganda,
    yaitu: Ekonomi Islam memiliki dua pengawasan, pengawasan
    Allah dan manusia, sebagaimana Rasulullah Saw mengawasi pasar ketika di
    Madinah, demikian pula seorang
    muslim selalu merasa adanya pantauan Allah dalam aktivitas ekonominya.
  3. Konstan
    dan fleksibel,
    dalam ekonomi Islam ada beberapa hal yang
    bersifat konstan dan yang lainnya fleksibel, berbeda dengan ekonomi
    kapitalisme, seprti teori Adam Smith, Ricardo dan Maltis yang seluruh
    prinsip ekonomi mereka selalu berubah tak ada yang konstan demikian pula Marxisme.
  4. Seimbang
    antara rohani dan materi
  5. Seimbang
    antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum
  6. Realistis
  7. Internasional.
    Dan lain-lain [18]




Adapun prinsip-prinsip ekonomi Islam adalah:


  1. Dualisme
    kepemilikan, umum dan khusus, karena pada dasarnya semua harta adalah
    milik Allah yang ditipkan pada hamba-Nya firman Allah: Dialah yang
    menciptakan bagimu apa yang ada di bumi seluruhnya"

    (Q.S:Al-Baqarah: 29)
  2. Takaful
    dan jaminannya
  3. Kebebasan
    yang terikat [19]


Demikianlah sistem ekonomi Islam yang
bersifat universal dan adil, sehingga dalam perekonomian Islam tidak ada pihak
yang dirugikan dan tertindas. Bahkan Islam mengharamkan sistem riba, memperkaya diri dan merugikan orang lain.
Firman Allah:


"Agar supaya harta itu
jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja diantara kamu".
(Q.S: Al-Hasyr: 7)




D. Universalitas Islam dalam
manhaj (pedoman)


Salah satu bentuk universalitas Islam yang
lain adalah; Universalitas manhaj atau pedoman, yang dimaksud pedoman di sini
adalah: Al-Qur'an, pedoman ini berlaku
sampai hari kiamat serta mencakup seluruh aspek kehidupan manusia baik ekonomi,
politik pendidikan, militer , kesehatan, sosial dan sebagainya. Semuanya telah
diisyaratkan dalam Al-Qur'an, sehingga tidak ada sesuatu yang terlupakan dalam
Al-Qur'an firman Allah : "Tidaklah
Kami alpakan sesuatu apapun di dalam Al-Qur'an, kemudian kepada Tuhanlah mereka
dihimpunkan"
.(Q.S: Al-An'am: 38)


Universalitas manhaj ini dapat
dilihat dari karakteristiknya yang rabbaniyah (orientasi ketuhanan), insaniyah
(kemanusiaan) dan as-tsawaabit wal murunah (konstan dan fleksibel) sebagaimana
akan dibahas di bawah ini:




1. Rabbaniyah (orientasi ketuhanan)


Yang dimaksud dengan manhaj yang berorientasi
ketuhanan adalah: Bahwa pedoman atau sistem yang ditetapkan oleh Islam dalam
mencapai tujuan adalah manhaj yang seratus persen berorientasi kepada Allah
SWT, karena sumbernya berasal dari wahyu kepada penutup para Nabi, Muhammad Saw.
[20]


Manhaj ini tidak datang dari ide dan pikiran
individu, keluarga, kelompok, partai
atau sebuah bangsa, akan tetapi dia berasal dari kehendak Allah Swt, yang
menginginkan petunjuk, cahaya, penjelasan dan rahmat bagi hamba-Nya. Firman
Allah : "Wahai manusia telah datang kepadamu petunjuk dari Tuhanmu dan
telah Kami turunkan bagimu cahaya yang terang–benderang". (Q.S: An-Nisaa:
174)


Serta dalam firman Allah :
" Wahai manusia telah datang kepadamu nasihat dari Tuhanmu dan obat bagi
setiap hati, serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berpasrah
diri".
(Q.S: Yunus: 57)


Rababniyah manhaj ini meliputi: Akidah,
ibadah, akhlak dan syari'at Islam. Oleh karena itu manhaj Islam sangat berbeda
dengan agama dan ideologi lain seperti; Yahudi, Kristen, Budha, Hindu,
Komunisme Kapitalisme dan lain sebagainya, yang telah dikotori oleh
tangan-tangan manusia bahkan seratus persen produk manusia, seperti agama-agama
bumi dan ideologi-ideologi buatan manusia lainnya.


Karenanya menurut DR. Yusuf
Al-Qardhawi buah dari manhaj yang rabbani ini adalah:


  1. Terhindar
    dari pertentangan, perbedaan dan kesalahan
  2. Terhindar
    dari dualisme dan hawa napsu
  3. Terhormat
    dan mudah diyakini
  4. Bebas
    dari perbudakan manusia pada manusia lain.[21]


Karenanya manhaj yang rabbani ini, telah
menjadikan risalah Islam sebagai risalah yang universal untuk seluruh jaman,
tempat dan manusia karena berasal dari sang pencipta jaman, tempat dan manusia
itu sendiri.




2. Al-Insaniyah (kemanusiaan)


Yang dimaksud dengan insaniyah (kemanusiaan)
adalah: Bahwa manhaj Islam yang Allah turunkan kepada manusia, sesuai dengan karakteristik manusia itu
sendiri, yang memilki dimensi ruh, jasad dan akal, maka manhaj ini sangat serasi
dengan kebutuhan ruh, jasad dan akal tersebut, sehingga dengan demikian ia
mudah dipahami dan diamalkan oleh manusia, tidak ada pertentang dengan tabiat
manusia. Oleh karena itu Allah Swt menurunkan utusan-Nya dalam bentuk manusia
bukan malaikat atau makhluk lain, dengan tujuan agar mudah diikuti dan
bersosialisai dengannya. Firman Allah : " Katakanlah sesungguhnya aku
ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa
sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Esa".
(Q.S: Al-Kahfi: 110).


Dan juga Allah Swt memerintahkan umat
manusia agar utusan ini harus diteladani, firman Allah: "Sesungguhnya
telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu"

(Q.S: Al-Ahzab: 21)


Dengan kemanusiaan manhaj ini, risalah Islam
menjadi risalah yang umum dan universal bagi seluruh manusia, karena serasi
dengan fitrah dan akalnya, serta tidak akan ada pertentangan dengan kemanusiaannya.




3. As-tsawaabit wal muruunah
(konstan dan fleksibel)


Salah satu cirri dari manhaj Islam yang
menunjukkan keuniversalannya adalah adanya prinsip-prinsip Islam yang konstan
atau abadi (as-tsawaabit)dan adanya prinsip-prinsip berkembang dan fleksibilitas
(al-muruunah), gabungan dua prinsip ini telah menjadi karakteristik
Islam sehingga risalahnya tetap relevan dengan setiap jaman, karakteristik ini
tidak akan ditemukan dalam agama-agama lain di dunia ini.


DR. Yusuf Al-Qardhawi menjelaskan bahwa konstanitas
dan fleksibilitas ini telah membuktikan universalitas Islam untuk setiap jaman
dan tempat, dan kita dapat memberikan batasan hal-hal yang abadi dan berkembang
dalam Islam sebagai berikut:


  1. Maksud
    dan tujuan syari'at Islam adalah konstan sedangkan pola-pola dan sarananya
    adalah fleksibel.
  2. Prinsip-prinsip
    pokok Islam adalah abadi sementara bagian-bagian dan cabang-cabangnya
    bersifat fleksibel.
  3. Nilai-nilai
    dan akhlak bersifat konstan sedangkan urusan-urusan duniawi dan keilmuan
    bersifat fleksibel. [22]


Dengan tiga karakteristik di atas manhaj
Islam akan tetap universal dan relevan sesuai dengan tuntutan jaman dan hidup
manusia. Sayid Qutb memberikan ungkapan indah tentang hal ini dengan berkata:
" Islam adalah manhaj kehidupan, kehidupan manusia yang realistis dengan
seluruh tuntutannya, manhaj yang meliputi gagasan akidah yang
diartikulasikan dalam kehidupan, manhaj
yang meliputi seluruh sistem dan sub sistem yang praktis, yang muncul dan
berdasarkan dari gagasan keyakinan tadi, sehingga menjadi bentuk yang konkrit
dalam hidup manusia. Seperti sistem moral, sistem politik bentuk dan
karakteristiknya, sistem sosial prinsip dan pendukungnya, sistem ekonomi
filsafat dan rinciannya serta sistem internasional hubungan dan
interaksinya". [23]